Menapak Jalan ke Kebon Sirih

Dari lahir sampai hari ini tak putus doa orang tua agar saya menjadi orang yang berguna. Saat kecil disekolahkan sampai sarjana. Setelah bisa cari uang, sekolah sendiri sampai bergelar doktor. Semua dengan niat bisa menebar kebaikan pada sesama. Saya beruntung....

Paska Pilpres. Arang atau abu. Masak pilihannya itu?

Paska pilpres ketegangan dan polarisasi sosial tidak juga menurun. Perseteruan beralih pada debat tentang kualitas penyelenggaraan pemilu dan keraguan akan legitimasinya. Sampai tanggal 22 Mei nanti, media kita akan terus disibukkan dengan bahasan tentang kecurangan...

Tentang Kawan

By : Tuan Wahai Tidaklah mudah menuliskan semua ini tanpa dituding sebagai buzzer. Dan tak mudah juga mengeritik kawan sendiri tanpa dipelototi pas ngopi cantik. Seperti mendayung di antara dua karang. Tapi baiklah kita ambil risiko itu, supaya dengan begitu kita...

Tentang Kita

By : Tuan Wahai Seorang kawan, seorang perempuan, yang memilih berpisah supaya dia tak disiksa lagi, memutuskan mengakhiri hidupnya: mengiris nadi. Darahnya menganak sungai, kental sungguh. Anaknya masuk kamar, bermaksud pinjam handphone untuk tetering, kemudian...

Jika Oum Awe Jadi Presiden

Jika saya jadi presiden, yang beneran ya, bukan cuma petugas partai, saya mau menuntaskan agenda reformasi 1998. Melucuti kekuasaan totaliter negara. Mencukupkan kekuasaan negara sampai yang kita perlukan saja. Setelah hampir 20 tahun berlalu, reformasi 1998 ternyata...

Betapa anunya nalar ke-Jokowi-an kalian.

Saya melihat kontestasi politik kita sudah dalam tahap yang mencemaskan. Ini bukan cuma soal benturan horisontal. Ini juga soal rusaknya akal sehat yang tidak akan pulih dengan berakhirnya pilpres 2019. Suram. Mari kita letakkan kembali masalah dalam tempatnya. Jokowi...